Aku berdiri menanti rembulan merangkak naik. Berjalan dengan cepat diantara manusia memasuki rumahnya masing-masing. Aku menarik nafas perlahan dan menikmati nikmat tuhan yang begitu megah dan mengucapkan terima kasih banyak pada-Nya. Walaupun hidup kami serba keterbatasan, kami tetap berterima kasih pada Allah.
“Rendi…” Ibu memanggilku. Aku menolehnya dan terlihat senyuman lebar terukir dimulutnya dengan baju yang kumuh begitupun aku bocah berusia sembilan tahun. Beliau mendidikku untuk menjadi anak laki-laki yang hebat, tidak boleh menangis. Ketika aku bersamanya, rasanya aku ingin seperti lem tikus selalu menempel padanya.
Gema adzan terdengar lantang lalu kami pergi ke mushola untuk shalat. Sehabis shalat kami pulang, ibu mengajarkanku membaca Al-Qur’an. Beliau mulai membaca Al-Qur’an dan aku mengikutinya dengan perlahan.
“Jangan tinggalkan shalat dan Al-Qur’an” Pesan ibu untukku
Aku seringkali banyak bertanya padanya.
“Bu bolehkah Rendi menjadi pemadam kebakaran?“ Ibu mengelus kepalaku “Sangat boleh, asalkan jangan sampai membuat Allah marah. Kenapa Rendi ingin menjadi pemadam kebakaran?” Tanya ibuku
“Tadi Rendi main sama Farhan terus dia bawa mobil-mobilan pemadam kebakaran warnanya keren.” Jawabku
“Wahh hebat, semoga hidup memperlakukanmu dengan baik.” Ujarnya.
Sebelum tidur, terlebih dahulu aku memberikan sebuah permen gulali dari hasil uang jajan. Aku memberikan permen tersebut dengan kedua tanganku langsung, ketika ibu masih memakai mukena putih yang menutup seluruh bagian tubuhnya dengan cantik. Luar biasa, memberikan sebuah hadiah kepada orang tua merupakan kebanggaan tersendiri. “Semoga ibu hidup lebih lama.” Itu yang kuucap. Momen tersebut terjadi sebelum ajal menjemputnya.
Pukul tiga pagi, masih pagi buta.
“DUARRR …”Bunyi pistol dan akupun terbangun, sungguh berdetak kencang jantungku, tekanan sistol dan distol tak seimbang. Aku ingin menangis namun aku tahan.
“Gubrakk …” Pintu rumah telah didobrak. Ibu menatap tajam kedua mataku dan mengangguk-anggukan kepalanya, meyakinkan bahwa ini semua baik-baik saja. Terlihat sesosok pria dengan pistol panjang dipanggulnya, berawakan tegap, memakai topi tentara, dengan parasnya yang sangar mendekati kami berdua. Melihat wajahnya yang sangar, seketika akupun menangis.
“Siapa anda?” Tanya ibu
“Sudahlah … Jangan tanya siapa aku. Lebih baik kalian berdua tinggalkan agama kalian.” Suruhnya sembari menodongkan senjata.
“Omong kosong apa itu?” Jawab ibu dengan geram.
“Arghh, dasar wanita jalang. Aku suruh kamu ikuti perintahku malah membantah.” Pria itupun menarik rambutnya dengan penuh kebengisan. Dia menjambak rambut ibuku dan menggerang.
“Walau kami disuruh pindah agama, kami lebih baik mati dan menyaksikan kamu menderita di bumi dari atas langit.” Ibu berusaha tidak menangis. Akupun berlari menghampiri pria terebut dan mengigit lengan kirinya sekuat tenaga supaya ibuku terlepas darinya.
Aku terlempar jatuh. “Anak ini akan menjadi sempurna jika kamu sebagai ibunya dapat membesarkannya dengan mudah.” Hina pria tersebut pada ibuku.
“Jangan sentuh anakku. Biarkan dia hidup dan tumbuh dengan baik.” Mohonnya pada pria itu. Namun ia tidak hiraukan permohanan ibu. Dengan cepat dia menembak ibu dengan senjatanya.
“Duarrrr …” Bunyi itu sangat keras terdengar ditelingaku. Darah segar mengalir darinya dan akupun menangis terduduk disampingnya. Aku tak mengerti apapun dengan kondisi ini yang aku tahu hanya darah segar yang tercecer di tanah.
Aku ingin seseorang datang dan selamatkan kami. Akankah Sang Ilahi menghajar pria tersebut dan meludahinya? Ibuku masih belum mati, dia meraih pipi kananku dan berkata sangat pelan.
“Kamu harus selalu mengingat Allah dan jangan tinggalkan Allah, karena nanti Allah akan marah.” Rinai air mata menetes dari kelopak matanya dan nafasnya terengah-engah.
“Bu … Ibu berdarah …” Tuturku sembari tersengguk-sengguk. Air mataku terus-menerus mengalir bagai sebuah benua yang tidak mungkin mengering.
“Usap air matamu karena kamu seorang pria. Jangan lupa selalu berterima kasih pada Allah, hidup dengan benar dan matilah dengan bahagia…” Ibuku belum sempat menyelesaikan perkataannya dan tiba-tiba “Duarrrrr … Duar … ” dua kali tembakan menuju dadanya. Wafatlah sudah ibu dengan semerbak harum darah jihad disekitarnya.
Tangisanku semakin menjadi-jadi Melihat ibu tergeletak di tanah tidak berdaya. Pria itu akan membunuhku.
Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati. “Ya Allah mohon kabulkan secercah harapan ibuku untuk saat ini.”
Doaku dikabulkan, Pria bengis itu mati tergeletak ditusuk oleh Pak Renold yang datang dari arah belakang. Rupanya pria paruh baya sedari tadi mengawasinya. Sorot mataku tertuju pada Pak Renold.
“Alhamdulillah.” Ucapku dalam hati.
Pak Renold menuntunku pergi meninggalkan rumah. Ketika aku dituntunnya, aku terlebih dahulu mencium kening ibuku sang malaikat tak bersayap.
“Rendi sayang ibu. Jangan sakit ketika bersama Allah.” Aku bisikan ditelinganya.
Aku tak ingin meninggalkan ibu sendirian, namun Pak Renold tetap menuntunku pergi meninggalkan rumah demi keselamatan nyawaku.
“Pak Renold, siapa yang membunuh ibuku?” Tanyaku sembari menangis terseguk-seguk dalam genggaman tuntunannya. Terkadang aku melihat orang-orang yang tergeletak di atas tanah tak bernyawa.
“Itu tentara jahat.” Pak Renold berhenti sejenak dan mengusap air mataku.
Rumah bilik ini menjadi saksi bisu perjuangannya dalam mempertahankan aqidah. Darah jihad yang tumpah kini bumi menyerapnya. Gugur dalam perang dan biarkan langit menangis untuknya. Kisah kebersamaan kita hanya sampai delapan tahun, sebelum itu aku ingin sekali ibuku bisa melihat anaknya memakai seragam sekolah dan mengucapkan “Kamu tampak gagah dan tampan seperti ayahmu dulu.” Tapi apalah dayaku, tidak bisa menawar takdir.
Tiga puluh empat tahun berlalu, aku dan keluarga kecilku mengunjungi Yordania kembali, melihat tempat yang sangat bersejarah. Rumah bilik itu masih berdiri, namun tidak seperti dahulu.Kedua anakku tampak senang akan betemu nenek dari ayahnya. Kuajak mereka masuk terlebih dahulu dan terlihat banyak ramat pada bagunan tersebut.
“Ayah, mana nenek?” Tanya si bungsu
“Kamu lihat ke bawah nak!” Suruhku padanya dan mereka kebingungan
“Nenekmu sudah tersenyum bahagia disamping Allah.” Aku hanya menatap pundak si bungsu.
Si bungsu hanya tertunduk lemah, dia merasa kecewa karena tidak bertemu neneknya. Dirangkullah pundak si bungsu dan si cikal olehku.
“Walaupun kalian tidak bisa melihat nenek, tapi nenek bisa melihat kalian sedang kecewa.” Tuturku sambil mengacak-acak rambut kedua anakku.
Tantangan hidup dalam mempertahankan nilai agama Islam sangat besar, terkadang orang-orang hanya akan memilih jalan yang mudah tanpa mereka tahu bagaimana namanya sebuah perjuangan, tentu saja perjuangan yang sangat sulit. Seorang anak tidak bisa memilih di mana ia dilahirkan dan oleh siapa dia dibesarkan. Yang perlu kita lakukan disaat kala kita sudah tak berdaya adalah mengikuti rancangan skenario hidup yang telah ditetapkan oleh Allah tanpa perlu bertanya kenapa dan bagaimana.
End
Penulis: Fauzan Ahmad Rifai Jaeni (Santri Kelas XII IPA Pesantren Persis 92 Majalengka)
Share this post